“Sudah Isi Belum?” Menghadapi Pertanyaan Sensitif Promil

Last Updated on 4 Oktober 2026 by Ali Arifin

Cerita Promil

Beberapa waktu lalu disuatu tempat, saya mendengar pertanyaan ini “Sudah isi belum?” tanya seorang ibu paruh baya. Walaupun pertanyaan itu tidak ditujukan kepada saya, tapi entah kenapa saya merasa risih dan tidak nyaman mendengarnya. Terlihat dari sudut yang berbeda, tampak pasangan muda yang wajahnya menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang tidak dapat diungkapkan dan dikatakan. Mereka hanya menjawab dengan perlahan “mohon doanya saja” dan tak berselang lama pergi berbalik arah, seolah olah ada rasa kesal dan getir yang dipendam. Bisa jadi Ibu tadi tidak punya niat apapun terhadap pasangan ini, hanya sekadar bertanya, karena pertanyaan semacam ini dianggap “hal biasa”, walaupun bagi pejuang promil ini menjadi “hal tersendiri”.

Ya, inilah fakta dilingkungan sosial kita. Dimana pasangan yang tak kunjung hamil, setelah pernikahan kurang lebih dari 1 tahun selalu ditanya ini dan itu. Seolah – olah lingkungan sekitar menuntut kita untuk “segera hamil”, bahkan menyudutkan kita untuk segera punya anak. Padahal setiap orang punya perjalanan, tantangan dan perjuangannya masing-masing. Ada yang punya problem secara biologis, ada juga yang punya problem lainnya. Dan itu yang tidak diketahui oleh lingkungan disekitar kita, yang terkadang “sok paling tahu”. Itulah yang dirasakan teman teman kita yang berjuang dijalan promil.

Fakta & Penelitian

Berdasarkan penelitian Luo et al. (2024), menunjukkan bahwa stigma dan tekanan sosial dari lingkungan, prasangka budaya, dan rasa canggung dalam interaksi sosial memicu penarikan diri (social withdrawal) serta depresi pada perempuan dengan infertilitas. Jika kita kaitkan dengan pertanyaan diatas “Sudah isi belum?” ini bisa menjadi salah satu titik rawan bagi teman-teman yang sedang berjuang untuk hamil. Semakin banyak yang bertanya, dan semakin sering ditanyakan, itu bisa sangat mengganggu dan menjadi persoalan tersendiri jika tidak kita kelola dengan baik.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

  1. Respon Terkontrol untuk Menjaga Kesehatan Mental
    Mengingat tekanan sosial dapat memicu penarikan diri (social withdrawal) hingga depresi, fokus utama kita harus dialihkan pada perlindungan kesehatan mental diri sendiri dan pasangan, bukan pada memberikan pemenuhan jawaban kepada lingkungan yang tidak memahami situasi kita sebenarnya.
  2. Siapkan Scripted Response (Jawaban Standar & Ringkas)
    Kita bisa mengembangkan jawaban yang disepakati bersama sebelum menghadiri acara keluarga atau sosial. Bisa menggunakan kalimat pendek yang sopan namun mengunci percakapan—seperti “Mohon doanya saja ya, nanti kalau ada kabar baik pasti dikabari” atau “Kami sedang menikmati prosesnya, terima kasih perhatiannya”— hal ini mencegah percakapan berkembang lebih jauh tanpa menguras energi kita.
  3. Bagi Peran dan Saling Menjadi ‘Benteng’ (Shielding)
    Sepakati pembagian peran saat berhadapan dengan keluarga atau lingkungan sosial masing-masing. Biasanya, pertanyaan dari pihak keluarga sendiri atau teman sendiri lebih efektif direspons atau diredam pihak itu sendiri. Contoh misal, ketika menghadiri acara di kerabat atau teman suami, maka yang paling efektif merespon adalah suami, begitu pula sebaliknya.
  4. Tentukan Kode Bahaya & Strategi Keluar (Exit Strategy)
    Buat tanda atau kata kunci rahasia antara Anda dengan pasangan ketika salah satu sudah merasa tidak nyaman atau lelah dengan pertanyaan sekitar. Begitu kode tersebut muncul, pasangan kita bertugas mengambil alih situasi atau memberikan alasan sopan untuk pamit berpindah area/pulang.

Jadi dengan berbagai macam pertanyaan yang aneh aneh seperti “Sudah isi belum? kapan punya momongan? atau ada yang berlagak sebagai konsultan promil dadakan, fokus utama kita adalah menjaga mental kita agar tetap sehat dalam perjalanan promil dan kehidupan ini. Tentunya kita merespon dan bertindak dengan cara-cara yang baik dan sopan, juga tidak menutup untuk menerima saran atau nasehat yang baik dan membangun.

Support Promil dot id

Oh ya, jika merasa platform ini bermanfaat, kami mohon dukungan dengan cara komentar positif pada kolom komentar dibawah ini. Komentar positif Anda sangat berharga untuk keberlangsungan platform ini. Juga Anda bisa share ke pasangan dan sahabat yang mebutuhkan ini. Semoga apa yang Anda dambakan segera terwujud. Aamiin

Terima kasih, salam sehat sukses bahagia penuh keberlimpahan keberkahan 🙂

Tanya Jawab Secara Privat – Rahasia

Referensi

Luo, D., Zhouchen, Y.-B., Li, L., Jiang, Y.-L., Liu, Y., Redding, S. R., Wang, R., & Ouyang, Y.-Q. (2024). The Stigma and Infertility-Related Stress of Chinese Infertile Women: A Cross-Sectional Study. Healthcare, 12(11), 1053. https://doi.org/10.3390/healthcare12111053

Ayah dan suami penuh waktu. Penggiat people development & personal mastery. Aktif bekerja dibidang marketing & branding.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *