Last Updated on 9 Oktober 2026 by Ali Arifin
Kisah ini datang dari Rani (nama samaran) dan suaminya yang bekerja disalah satu perusahaan yang sedang bertumbuh. Rani dalam 5 bulan terakhir merasa ada yang berbeda dengan kehidupan sebelumnya, terutama sejak suaminya pindah tempat kerja. Bagaimana tidak, ketika suaminya pulang, ada ada saja persoalan dan cerita dari kantor yang dibawa. Awalnya Rani merasa wajar – wajar saja, karena sang suami sedang merintis karir. Namun lama kelamaan hal ini sangat mengganggu, dan bahkan seperti menguras energinya, apalagi dia sedang menjalani promil.
Usut punya usut, ternyata sang suami ditempat kerja bebannya dari hari ke hari ditambah terus oleh manajernya. Sebenarnya ini tidak terlalu menjadi masalah bagi mereka. Yang menjadi masalah adalah, masih ditambah beban kerjanya, tapi ketika ada kekurangan, kesalahan dan dievaluasi oleh GM, dia dijadikan kambing hitam. Manajernya sebagai atasan langsung, tidak hadir memberikan backup dan membantu mencari solusi. Malah terkadang seolah olah menejerumuskan. “Iyah benar… dia tu,….., memang benar sih Pak, dia gak paham, Gak punya pengalaman!” Manajernya ikut menyalahkan kondisi atas hasil kerja suami Rani. Akibatnya sang suami selalu membawa cerita negatif itu kerumah. Niatnya baik, karena ingin curhat dan mengurai masalah yang ada dengan Rani. Tapi faktanya justru menjadi beban baru bagi Rani dan mengganggu fokus ketenangan promilnya.
Oke, kita coba bedah menggunakan psikologi organisasi. Menariknya dalam psikologi organisasi, tindakan pemimpin yang kerap menyalahkan tim, selalu mencari kambing hitam, serta mengekspresikan agresi non-fisik dikategorikan sebagai abusive supervision atau despotic leadership. Berdasarkan Conservation of Resources (COR) Theory, perlakuan buruk atasan yang terjadi secara terus-menerus, bisa menjadi stressor sosial yang menguras energi emosional karyawan. Tentunya hal ini secara langsung memicu kelelahan emosional (emotional exhaustion), kecemasan kronis, penurunan kepuasan hidup, serta distres psikologis yang berat karena karyawan harus selalu bersikap defensif di tempat kerja (Nauman et al., 2018; Tepper, 2000)
Ini fakta brutalnya untuk kita semua. Ternyata tekanan psikologis akibat perlakuan pemimpin tidak berhenti saat jam kerja berakhir dan kita pulang ke rumah. Karyawan yang energinya terkuras di kantor mengalami kegagalan untuk melakukan pelepasan psikologis (psychological detachment) saat tiba di rumah. Nah, ketegangan ini mengalami spillover (limpahan intra-individu) ke ranah pasangan atau keluarga, yang bentuknya bisa menjadi problem dan konflik antara ruang kerja ke ruang keluarga (work-to-family conflict). Jadi karyawan pulang dalam kondisi suasana hati buruk, lelah mental, dan emosional yang sehat untuk berinteraksi dengan keluarga. Inilah yang terjadi pada suami Rani seperti dalam kisah diatas. (Bakker & Demerouti, 2018; Nauman et al., 2018).
Berdasarkan literatur, cara penularan crossover atau penularan antar individu ini melalui dua jalur (Hoobler & Brass 2006; Westman 2001) ;
Lantas bagaimana cara mengatasinya? akan kita bahas dalam seri update artikel ini berikutnya. Terima kasih
Oh ya, jika merasa platform ini bermanfaat, kami mohon dukungan dengan cara komentar positif pada kolom komentar dibawah ini. Komentar positif Anda sangat berharga untuk keberlangsungan platform ini. Juga Anda bisa share ke pasangan dan sahabat yang mebutuhkan ini. Semoga apa yang Anda dambakan segera terwujud. Aamiin
Terima kasih, salam sehat sukses bahagia penuh keberlimpahan keberkahan 🙂